UPACARA TRADISIONAL DI PONOROGO

1.Grebeg Suro

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Logo Grebeg Suro 2011
Grebeg Suro adalah acara tradisi budaya tahunan masyarakat Ponorogo dalam wujud pesta rakyat. Seni dan tradisi yang ditampilkan meliputi Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, dan Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel.[1] Grebeg Suro merupakan acara tahunan yang dirayakan setiap tanggal 1 Muharram (1 Suro pada tahun Jawa). Acara ini merupakan kegiatan awal dalam menyongsong Tahun Kunjungan Wisata Jawa Timur setiap tahun.[2]
Rangkaian Grebeg Suro di antaranya, prosesi penyerahan pusaka ke makam bupati pertama Ponorogo. Kemudian disusul pawai ratusan orang menuju pusat kota dengan menunggang bendi dan kuda yang dihiasi. Berikutnya akan ada Festival Reog Nasional di alun-alun kota. Saat itu puluhan grup reyog di Jawa Timur bahkan dari Kutai Kartanagara, Jawa Tengah, Balikpapan, dan Lampung akan turut tampil memeriahkan acara hairem ini.[1]

Sejarah

Sejarah diadakannya Grebeg Suro di Kabupaten Ponorogo adalah adanya kebiasaan masyarakat terutama kalangan warok pada malam 1 Suro yang mengadakan tirakatan semalam suntuk dengan mengelilingi kota dan berhenti di alun-alun Ponorogo. Pada tahun 1987 Bupati Soebarkah Poetro Hadiwirjo melihat fenomena ini dan melahirkan gagasan kreatif untuk mewadahi kegiatan mereka dengan kegiatan yang mengarah pada pelestarian budaya. Sebab ditengarainya minat para pemuda terhadap kesenian khas Ponorogo mulai luntur, untuk itu diadakanlah Grebeg Suro dan memasukkan Reog didalamnya. Seni dan tradisi yang ditampilkan meliputi Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, dan Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel.[1][3]

Pelaksanaan

Larung Risalah Doa
Tata cara pelaksanaannya dimulai dengan Festival Reog Nasional yang dilaksanakan selama 4 hari dengan jumlah peserta 51 grup dengan 21 grup dari Ponorogo dan 30 grup dari luar Ponorogo. Dari keseluruhan peserta diambil 10 besar group Reog terbaik dan 10 besar pembina terbaik. Sehari sebelum 1 Suro diadakan Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka dari kota lama ke kota tengah untuk mengenang perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Ponorogo dari kota lama ke kota tengah. Malam 1 Suro diadakan penutupan Festival Reog Nasional dan pengumuman lomba, dan tepat tanggal 1 Suro diadakan Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel. Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung meliputi nilai simbolik, nilai tanggung jawab, nilai keindahan, nilai moral, nilai hiburan, nilai budaya, nilai sosial, nilai ekonomi, nilai apresiasi, dan nilai religius.[1][3]

2.Gelar Larungan 

Dokumentasi. Warga mengirab sesaji yang akan dilarung di Telaga Ngebel, Kab. Ponorogo, Jatim, Selasa (5/11). (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Ritual pelarungan yang menandai penutupan Grebeg Suro ini merupakan perwujudan tradisi masyarakat Ngebel
Ponorogo (ANTARA News) - Masyarakat adat di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, menggelar upacara larungan sesaji di Telaga Ngebel di kaki Gunung Wilis, Sabtu.

Ritual adat yang menjadi puncak rangkaian kegiatan "Garebek Suro" atau peringatan pergantian tahun baru Islam tersebut menarik perhatian dari wisatawan lokal maupun mancanegara.

Bahkan, tak sedikit wisatawan yang datang ke Telaga Ngebel sejak Jumat malam (24/10) untuk mengikuti prosesi menjelang pergantian Tahun Islam atau "suroan".

"Larungan ini dilakukan setiap 1 Muharam. Ini sebagai wujud puji syukur kami warga sekitar Ngebel karena setahun ini telah diberi rahmat rezeki dan keselamatan oleh Tuhan," kata Ketua Penitia Larungan yang juga sesepuh Ngebel, KRT Hartoto Dwijo.

Ritual larungan sesaji, menurut Hartoto, diyakini sebagai kegiatan untuk "tolak bala" (penangkal prahara) bagi masyarakat Ponorogo, khususnya yang tinggal di sekitar Telaga Ngebel.

"Masyarakat di sini mempercayai bahwa dengan adanya larungan seperti ini nantinya bakal tidak ada lagi musibah apa pun yang akan terjadi di sini, dengan harapan meminta ridlo Allah," ujarnya.

Namun, ia tidak mau upacara ini dimaknai sebagai upaya memberi sesembahan kepada makhluk-makhluk gaib di Telaga Ngebel. Menurut dia, kegiatan tersebut hanya sebagai bentuk ucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa.

"Tujuan lainnya adalah sebagai daya tarik wisata, yaitu dari sisi budayanya yang menarik," katanya.

Prosesi pelarungan ditandai dengan arak-arakan dua tumpeng raksasa yang disebut "Buceng Agung" dan "Buceng Purak" oleh sejumlah pemuka adat mengelilingi Telaga Ngebel.

Selesai pawai yang diiringi pasukan berseragam adat ala kerajaan Jawa, Buceng Agung dari nasi beras merah dan sejumlah buah serta sayuran itu kemudian dilarung di tengah Telaga Ngebel.

Sementara itu, salah satu budayawan Ponorogo, yang akrab disapa Mbah Melan mengatakan ritual larung sesaji merupakan salah satu bentuk kekayaan budaya bangsa.

"Upacara yang sudah ada jauh sebelum masyarakat Ponorogo mengenal peradaban maju kini tetap dipelihara dan dipertahankan dengan cara digarap sesuai dengan kebutuhan pariwisata. Namun demikian, seluruhnya tetap diupayakan tidak mengurangi hal-hal yang bersifat transendental sebagai perwujudan menjaga kemurnian tradisi," katanya.

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari

Komentar

Postingan populer dari blog ini