UPACARA TRADISIONAL DI PONOROGO
1.Grebeg Suro
Logo Grebeg Suro 2011
Rangkaian Grebeg Suro di antaranya, prosesi penyerahan pusaka ke makam bupati pertama Ponorogo. Kemudian disusul pawai ratusan orang menuju pusat kota dengan menunggang bendi dan kuda yang dihiasi. Berikutnya akan ada Festival Reog Nasional di alun-alun kota. Saat itu puluhan grup reyog di Jawa Timur bahkan dari Kutai Kartanagara, Jawa Tengah, Balikpapan, dan Lampung akan turut tampil memeriahkan acara hairem ini.[1]
Sejarah
Sejarah diadakannya Grebeg Suro di Kabupaten Ponorogo adalah adanya kebiasaan masyarakat terutama kalangan warok pada malam 1 Suro yang mengadakan tirakatan semalam suntuk dengan mengelilingi kota dan berhenti di alun-alun Ponorogo. Pada tahun 1987 Bupati Soebarkah Poetro Hadiwirjo melihat fenomena ini dan melahirkan gagasan kreatif untuk mewadahi kegiatan mereka dengan kegiatan yang mengarah pada pelestarian budaya. Sebab ditengarainya minat para pemuda terhadap kesenian khas Ponorogo mulai luntur, untuk itu diadakanlah Grebeg Suro dan memasukkan Reog didalamnya. Seni dan tradisi yang ditampilkan meliputi Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, dan Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel.[1][3]Pelaksanaan
Larung Risalah Doa
2.Gelar Larungan
Sabtu, 25 Oktober 2014 17:37 WIB
Dokumentasi. Warga mengirab sesaji yang
akan dilarung di Telaga Ngebel, Kab. Ponorogo, Jatim, Selasa (5/11).
(ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Ritual pelarungan yang menandai penutupan Grebeg Suro ini merupakan perwujudan tradisi masyarakat Ngebel
Ritual adat yang menjadi puncak rangkaian kegiatan "Garebek Suro" atau peringatan pergantian tahun baru Islam tersebut menarik perhatian dari wisatawan lokal maupun mancanegara.
Bahkan, tak sedikit wisatawan yang datang ke Telaga Ngebel sejak Jumat malam (24/10) untuk mengikuti prosesi menjelang pergantian Tahun Islam atau "suroan".
"Larungan ini dilakukan setiap 1 Muharam. Ini sebagai wujud puji syukur kami warga sekitar Ngebel karena setahun ini telah diberi rahmat rezeki dan keselamatan oleh Tuhan," kata Ketua Penitia Larungan yang juga sesepuh Ngebel, KRT Hartoto Dwijo.
Ritual larungan sesaji, menurut Hartoto, diyakini sebagai kegiatan untuk "tolak bala" (penangkal prahara) bagi masyarakat Ponorogo, khususnya yang tinggal di sekitar Telaga Ngebel.
"Masyarakat di sini mempercayai bahwa dengan adanya larungan seperti ini nantinya bakal tidak ada lagi musibah apa pun yang akan terjadi di sini, dengan harapan meminta ridlo Allah," ujarnya.
Namun, ia tidak mau upacara ini dimaknai sebagai upaya memberi sesembahan kepada makhluk-makhluk gaib di Telaga Ngebel. Menurut dia, kegiatan tersebut hanya sebagai bentuk ucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa.
"Tujuan lainnya adalah sebagai daya tarik wisata, yaitu dari sisi budayanya yang menarik," katanya.
Prosesi pelarungan ditandai dengan arak-arakan dua tumpeng raksasa yang disebut "Buceng Agung" dan "Buceng Purak" oleh sejumlah pemuka adat mengelilingi Telaga Ngebel.
Selesai pawai yang diiringi pasukan berseragam adat ala kerajaan Jawa, Buceng Agung dari nasi beras merah dan sejumlah buah serta sayuran itu kemudian dilarung di tengah Telaga Ngebel.
Sementara itu, salah satu budayawan Ponorogo, yang akrab disapa Mbah Melan mengatakan ritual larung sesaji merupakan salah satu bentuk kekayaan budaya bangsa.
"Upacara yang sudah ada jauh sebelum masyarakat Ponorogo mengenal peradaban maju kini tetap dipelihara dan dipertahankan dengan cara digarap sesuai dengan kebutuhan pariwisata. Namun demikian, seluruhnya tetap diupayakan tidak mengurangi hal-hal yang bersifat transendental sebagai perwujudan menjaga kemurnian tradisi," katanya.
Pewarta: Destyan Sujarwoko
Editor: Heppy Ratna Sari
Komentar
Posting Komentar